Senin, 01 Desember 2008

12

Bagi Boni menyabung ayam adalah proses mendapatkan kebebasan dirinya. Karena itu Boni menumpahkan kehobiannya sedemikian rupa,sembari menegak puluhan botol minuman alkohol.

“Ayo! Ayo! Jago! Serang terus! Serang!” Hiruk pikuk dan teriakan orang-orang di arena sabung ayam itu, sudah biasa terdengar setiap akhir pekan di sebuah pojok kawasan Kampung Palapa, Tanjungkarang Barat. Teriakan mereka kadangkala berkejar-kejaran dengan beduk Ashar musholla yang tak jauh dari tempat itu. Para petarung selain warga setempat, juga sengaja datang Panjang, Kedaton, Sukarame, Blora, Cimeng-Kodim, Plang Besi, Langkapura, dan Kaliawi. Petarung luar kota yang sengaja datang ke sana antara lain dari Tanjungan, Gedongtataan, Gadingrejo, Pringsewu, dan Natar.
Mereka bertarung adu jago, adu uang, dan adu kepuasan. Pesertanya berbagai kalangan dari masyarakat biasa, pegawai negeri sipil, perwira polisi, tentara, pengusaha, hingga politisi daerah. Selain di Palapa, arena sabung ayam ini juga pernah dibuka di kawasan Beringin Raya, Langkapura, tepatnya bersebelahan lahan Sirkuit Beringin Raya, yang dibangun Hutomo Mandala Putra, putra Presiden Soeharto. Di arena sabung ayam ini lebih ramai. Banyak berkumpul tokoh-tokoh atau orang-orang terkenal dari kalangan pemborong, tokoh olahraga, wartawan, aktivis LSM, mahasiswa, pengacara, tak ketinggalan polisi dan tentara berpakaian preman, walau cuma ikut menonton.
Jenis ayam yang mereka pertarukan, ayam Bangkok dan juga ayam impor seperti Ayam Vietnam. Ayam-ayam yang akan dipertarungkan dalam arena perjudian itu harus memenuhi kriteria juri pertandingan.
Meski tidak seluruh petarung, pulang dengan kemenangan, tetapi ada kenikmatan tersendiri didapat mereka, lebih sekedar menghambur-hamburkan uang di arena judi sabung ayam itu. Meski mereka sendiri sulit menjelaskan kenikmatan seperti apa. “Ya pokoknya asik!” komentar mereka. Tidak pernah tersirat di benak mereka perihal kekejaman, penyiksaan, dan tindakan sadisme lainnya di balik kesenangan dan uang.
Mereka berkumpul di lapangan layaknya kanak-kanak bermain bola atau petak umpet. Tertawa. Berteriak. Dan marah-marah. Barangkali dari situ, mereka mendapatkan kebebasan dan kemerdekaan yang tidak mereka miliki di rumah atau tempat kerjanya.
Boni begitu semangat sore itu. Dua ayam sabungannya menang. Pikir Boni, ayam ternyata mampu mewujudkan harapan dan keinginannya. Ia pulang dengan membawa uang dan kemenangan. Minggu kemarin, di arena sabung ayam lainnya, kawasan Tarahan, Lampung Selatan, Boni kalah telak sampai 25 juta rupiah.
Bagi Boni menyabung ayam adalah proses mendapatkan kebebasan dirinya. Karena itu Boni menumpahkan kehobiannya sedemikian rupa, sembari menegak puluhan botol minuman alkohol. Dengan alkohol, Boni mendapatkan keberanian menspekulasikan harapan dengan menebar puluhan juta rupiah untuk seekor ayam.
Bagi Boni, ukuran kebahagiaan di arena sabung ayam itu, adalah pulang dengan kemenangan. Jika kalah, ia pun menganggapnya hiburan saja.
Budaya sabung ayam sebetulnya bukan budaya masyarakat pribumi asli Lampung. Sabung ayam ini permainan judi yang dibawa masuk oleh para pendatang ke Lampung. Dari lokasi perjudian sabung ayam sendiri, kebanyakan ada di kampung yang sebagian besar warganya dari suku pendatang.

Tidak ada komentar: