Selasa, 16 Desember 2008

27

Gempa disertai terjangan gelombang pasang itu hanya sesaat, tetapi telah meluluhlantakkan semua yang ada di Aceh. Ratusan ribu mayat anak-anak dan orang dewasa berserakan di setiap penjuru daratan “Tanah Rencong” itu.

Hembusan angin Timur, terasa kian keras menampar tubuh Umar. Suasana itu mengingatkan kembali cerita kakeknya tentang peristiwa alam, seperti gempa dan gelombang pasang. Naiknya air laut hingga puluhan meter, menyapu kapal-kapal ikan, bagan, serta rumah nelayan sepan-jang pantai.
Kemarahan alam, kemarahan laut, kadangkala tidak pernah dapat diduga manusia. Sekali pun pakar seismograf. Seperti peristiwa meletusnya Gunung Krakatau Tahun 1883 lampau. Menenggelamkan ratusan pulau, menelan nyawa 36 ribu orang di belantara dunia. Kisah Krakatau tidak lenyap. Ia meninggalkan Anak Gunung Krakatau kini masih aktif.
Melihat kepanikan warga akan gelombang tsunami tadi subuh, Umar teringat tayangan televisi gempa Maumere dan gempa Liwa yang menelan ratusan jiwa, anak-anak dan orang tua.
Pada 26 Desember 2004 lalu, televisi kembali menayangkan bencana yang terbesar dalam dua abad ini, yakni gempa dan gelombang Tsunami di Aceh serta Kepulauan Nias, Sumatera Utara.
Gempa disertai terjangan gelombang pasang itu hanya sesaat, tetapi telah meluluhlantakkan semua yang ada di Aceh. Ratusan ribu mayat anak-anak dan orang dewasa berserakan di setiap penjuru daratan “Tanah Rencong” itu.
Alam menggelar ratusan kilometer kain kafan di bumi “Serambi Mekah”. Puluhan eskavator menggali lubang dan menanam massal mayat mereka. Tangisan tsunami juga terjadi di sejumlah tempat di Asia Tenggara, Asia Selatan, hingga Afrika.
Kejadian itu meninggalkan ketakutan warga Telukbetung terutama yang berada di pesisir pantai. Mereka trauma peristiwa Aceh, apalagi ditayangkan berulang-ulang di televisi. Seakan mengajak warga terus mengingat dan menghapal gambar demi gambar dramatik tersebut.
Umar teringat Cakra. Ia khawatir tangisan rakyat Aceh menjadi industri airmata.
“Orang Aceh sampai mati pun masih dieksploitasi,” ujar Cakra.
“Lihatlah, puluhan trilyun bantuan akan mengalir untuk merehabilitasi Aceh. Orang-orang sekejap saja lupa airmata Aceh. Mereka kembali saling mencakar untuk menangguk keuntungan dari ribuan proyek yang dihamburkan ke seluruh wilayah Aceh,” kata Cakra.
Umar mengangguk-angguk. Ia membayangkan dampak psikis dan kehidupan sosial budaya rakyat Aceh pasca tsunami. Soal penyembuhan trauma korban anak-anak, serta adopsi mereka yang diatur pemerintah. Seakan ada ketakutan negara, generasi terputus ini menjadi “orang liar” yang sulit diidentifikasi di kemudian hari.
Umar menggambarkan 10 tahun atau 20 tahun ke depan. Bayi-bayi Aceh akan bertanya siapa ibunya, dan di mana rumahnya. Karena tidak semua orang mampu menuturkan peristiwa memilukan itu berulang-ulang secara cerdas. Apakah orangtua mereka mati karena konflik TNI-GAM, atau karena bencana tsunami.
“Anak-anak itu terus menyimpan luka dari masa ke masa,” ucap Cakra.
Umar sudah tidak lagi tertarik gambar kesedihan Aceh yang ditayangkan berulang-ulang di televisi. Ia teringat cerita Cakra. Seniman kerempeng itu ternyata memiliki banyak catatan masa lalu.
“Alam suka murka dalam angka 26,” ungkap Cakra.
Menurut Cakra, tanggal 26 adalah “tarikh maut” yang terkait dengan bencana alam.
“Mungkin ini serba kebetulan, tapi tak ada salahnya buat kita semua untuk selalu waspada. Toh, di luar tanggal itu, beragam bencana juga menimpa umat manusia di berbagai belahan bumi,” paparnya.
Cakra menjelaskan sambil membuka buku catatannya. Ia lalu mulai memba-cakannya. “Kau dengar ini, Mar!” ujarnya sembari matanya tertuju ke buku yang kulitnya terlihat lusuh.
“Di buku ini diceritakan, Krakatau meletus dan meluluhlantakkan pesisir selatan Pulau Jawa dan sebagian pantai di Pulau Sumatera, terjadi 26 Agustus 1883. Gelombang Tsunami menerjang pula kawasan Serang, Anyer, dan Batavia, kini bernama Jakarta. Korban tewas tercatat 36 ribu orang. Gelombang tsunami yang timbul dari letusan Krakatau memuntahkan pula bebatuan dari dasar laut menuju daratan. Ribuan kali lebih besar dari bom sekutu di Hirosima-Nagasaki!”
“Seandainya kemarahan Krakatau masa sekarang, hitungan korban bukan puluhan ribu, Mar, tapi jutaan orang ,” jelas Cakra.
Cakra membalik halaman bukunya, “Pada 26 Desember 1932, gempa bumi melanda Cina Daratan, membunuh 70 ribu nyawa! Lalu 26 Desember 1939, gempa berkekuatan 7,9 Skala Richter mengguncang wilayah Erzincan, Turki, menewaskan 41 ribu orang. Kemudian 26 Desember 2003, gempa bumi 6,5 Skala Richter menerjang wilayah Bam, Iran, membunuh 45 ribu jiwa.”
“Terakhir, 26 Desember 2004, gempa dan tsunami menerjang Aceh dan Nias, serta beberapa negara lain di Asia. Sedikitnya lebih 150 ribu orang meninggal dunia!”
Cakra berhenti membaca. “Nah, terbukti kan? Ilmu manusia enggak ada apa-apanya diadu sama ilmu Tuhan,” pesan seniman itu sembari meletakkan buku ke meja.
“Nah, yang kita rasakan sendiri di kota kita, sejak 20 Mei 2006, gempa tektonik terjadi di wilayah Kemiling!”
Gempa di wilayah Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung itu, terjadi puluhan kali setiap hari dengan kekuatan berkisar 3-4 Skala Richter. Gempa yang terjadi siang dan malam hari itu, membuat panik warga, sebagian besar warga tidur di tenda-tenda darurat yang mereka dirikan di halaman depan rumahnya.
Gempa yang disebut oleh Badan Metreologi dan Geofisika jenis gempa “Swarm” ini berlangsung selama dua bulan lebih. Gempa “Swarm” menurut pihak Mitigasi Bencana Geologi, Vulkanologi, dan Tsunami BMG Pusat, gempa yang frekuensi terjadinya relatif lebih sering, tetapi kekuatan gempa kecil di bawah 5 Skala Richter.
Gempa jenis Swarm biasanya terjadi di daerah tinggi seperti pegunungan atau perbukitan di Lampung. Gempa ini terjadi akibat ada pegeseran garis sesar pada perut bumi. Getaran gempa akan terus berlangsung dan berhenti sampai adanya kestabilan lapisan tanah di perut bumi.
Dari alat pantau digital portabel yang dipasang di sebuah gedung sekolah dasar di sekitar terminal Kemiling, terekam setiap hari rata-rata di atas 50 kali terjadi gempa. Ada yang kekuatan kecil yang tidak dirasakan warga.
Menurut alat pantau tersebut, pusat gempa berada di sekitar Gunung Betung dengan kedalaman di bawah 15 Kilometer. Jika kekuatan gempa cukup tinggi, getarannya dirasakan warga hingga ke Panjang dan Telukbetung.
“Ya, baru kali inilah, Cak, saya merasakan gempa yang berulang setiap hari,” tanggap Umar.
“Dan perlu kau ingat pula, Mar. Meski gempa di kita tidak menelan korban, tetapi 27 Mei-nya gempa menguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah. Dilaporkan ribuan orang meninggal dunia dan luka-luka, ribuan bangunan roboh dan rusak! Alam kembali marah!”
Umar sejenak tertegun. Ada kagum. Ada ketakutan. Ia membayangkan apa yang diceritakan Cakra. Setelah laut marah, tidak lama lagi langit dan lapisan ozon akan begitu pula. Karena bolong akibat rumah kaca dan racun pestisida. Umar merasa penting merenungkan ucapan Cakra, kemarahan alam tersebut dapat kita bendung dengan menumbuhkan kembali sikap leluhur yang sangat menghargai alam bersama kearifan lokalnya.

Tidak ada komentar: