Selasa, 09 Desember 2008

20

Dari pengeras suara terdengar teriakan parau; “kawan-kawan! Satu rekan kita mati! Mereka menembak Rizal! Jangan mundur! Lawan! Maju… maju!” Mahasiswa kembali keluar dari kampus UBL. Mereka tumpah ruah ke jalan raya ZA Pagaralam, di depan kampus UBL.

“Hidup rakyat…!”
“Tolak RUU Hankam Negara! Tolak Militerisme!”
Ratusan mahasiswa bermuka marah itu, menyerbu Markas Koramil Kedaton, berjarak sekitar 100 meter, berseberangan Jalan raya di depan Universitas Bandar Lampung.
Bendera merah putih yang sejak pagi berkibar di halaman Koramil, diturunkan paksa oleh mahasiswa.
Anak-anak muda pemberani itu merangsek masuk ke dalam kantor Koramil. Mereka dorong-dorongan dengan beberapa anggota tentara. Terdengar kaca jendela runtuh. Salah seorang di antara pengunjuk rasa naik dan berdiri di atas satu pilar pagar tembok Koramil. Dengan corong pengeras suara, lelaki ceking itu mengomandoi rekan-rekannya untuk terus masuk dan menduduki kantor yang dijaga beberapa personel bersenjata.
Melihat aksi mahasiswa yang mulai kalap, para anggota koramil mundur ke belakang kantornya. Tidak beberapa lama setelah itu, dari belakang kantor itu terdengar rentetan tembakan berkali-kali ke arah kerumunan mahasiswa.
Barisan aksi mahasiswa panik. Mereka perlahan mundur dari Koramil. Suara tembakan terus menyalak. Ratusan mahasiswa kocar-kacir ke seberang jalan. Sebagian besar lari masuk ke kampus UBL, Universitas Bandar Lampung.
“Hentikan tembakan! Stop! Jangan menembak! Jangan menembak!” pekikan itu muncul dari pengeras suara lelaki ceking yang masih berdiri di atas pagar tembok Koramil. Ia masih bertahan di atas pagar, di antara desingan peluru. Mahasiswa pemberani itu bernama Chairul. Ia terus berteriak-teriak meminta sejumlah personel TNI bersenjata di belakang kantor Koramil menghentikan tembakan.
Namun teriakan “Chai” panggilan akrab Chairul itu, justeru semakin mengobarkan kemarahan personel TNI. Mereka terus menembak. Semakin kalap dan membabibuta. Seorang mahasiswa bernama Rizal yang menghindar ke seberang jalan, tiba-tiba jatuh tersungkur di trotoar jalan. Dari dadanya terlihat darah membasahi kemeja putihnya. Sementara suara letusan senjata masih terdengar.
Begitu mengetahui ada seorang mahasiswa tertembak. Para demonstran mulai terbakar kemarahannya. Mereka kembali maju. Melemparkan batu-batu ke arah kantor Koramil dan kerumunan polisi. Markas Koramil rusak parah. Pagar depan roboh, kaca-kaca jendela pecah.
Di tengah kegaduhan terus memuncak, sebagian mahasiswa langsung membawa Rizal ke Rumah Sakit Umum Abdul Muluk. Namun ketika tiba di ruang Unit Gawat Darurat rumah sakit pemerintah itu, Rizal sudah tidak bernafas lagi. Hasil visum, korban tewas setelah peluru menembus dada kanannya. Mahasiswa semester tiga ini menghembuskan nafas terakhir di atas mobil yang membawanya ke rumah sakit.
Reaksi kematian Rizal, mengundang solidaritas mahasiswa lain dari berbagai kampus PTS dan PTN di Bandar Lampung. Termasuk aktivis LSM yang sebelumnya setengah hati mendukung aksi mahasiswa ini. Lalu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi itu, beramai-ramai maju kembali untuk menguasai kantor Koramil. Salah seorang mahasiswa bernama Muzam dan beberapa kawan-kawannya terus mengobarkan semangat mahasiswa.
Dari pengeras suara terdengar teriakannya yang mulai parau; “kawan-kawan! Satu rekan kita mati! Satu rekan kita mati…! Satu rekan kita telah meninggalkan kita! Mereka menembaknya! Mereka menembak Rizal! Kita jangan mundur! Lawan! Maju…terus maju!” Mahasiswa kembali keluar dari halaman kampus UBL. Mereka tumpah ruah memadati jalan raya ZA Pagaralam, di depan kampus UBL.
Ratusan aparat kepolisian dan tentara melakukan blokade memotong jalan besar itu. Mereka dihujani lemparan batu dan bom Molotov oleh mahasiswa. Tetapi karena posisi aparat agak berjarak dengan kerumunan mahasiswa, lemparan batu dan botol botol hanya sampai beberapa meter di muka petugas keamanan.
Jalan raya lokasi aksi itu sudah diblokir. Hanya terlihat mahasiswa, aparat keamanan, wartawan, dan beberapa orang warga masyarakat yang menonton. Badan dan bahu jalan hingga trotoar, diseraki batu-batu dan kayu yang dijadikan senjata mahasiswa melempari pasukan polisi dan tentara.
Beberapa saat setelah aksi lempar itu, unit pengendalian massa atau Dalmas dari gabungan Poltabes dan Polda Lampung, bergerak mundur beberapa langkah untuk memancing maju kerumunan mahasiswa itu. Sementara lapisan kedua di belakang, terlihat pasukan TNI bersiaga dengan senjata api laras panjang, tameng dan pemukul dari rotan. Pasukan Dalmas lalu bergerak maju bersama sejumlah personel intel dan reserse baik dari tentara maupun polisi. Lalu terdengar beberapa kali suara tembakan.
Konsentrasi mahasiswa pecah. Ada yang bertahan ada yang berlari ke dalam kampus UBL. Aparat keamanan terus maju. Beberapa orang polisi dan tentara berpakaian preman menyebar mengepung kampus, sambil mengacungkan pistolnya. Sebagian lagi masuk mengejar mahasiswa sampai ke dalam kampus. Lalu diikuti puluhan Dalmas lainnya.
Seperti dikomandoi, dengan penuh emosi, personel keamanan dan beberapa anggota intel dan reserse beraksi brutal di dalam kampus itu. Mereka mengobrak-abrik apa yang terlihat mereka, merusak mobil dan motor dosen dan karyawan UBL di halaman parkir. Menghancurkan kaca-kaca jendela serta sarana fisik lainnya milik kampus swasta itu.
Setiap menemukan mahasiswa mereka keroyok dan digebuki beramai-ramai. Suara kesakitan dan teriakan panik terdengar di sana sini. Darah muncrat dari kepala beberapa orang mahasiswa. Mereka diseret masuk ke dalam sebuah mobil yang sepertinya sudah disiapkan lebih dulu. Tidak ada yang tahu mau dibawa ke mana mahasiswa yang dimasukkan ke mobil itu
Sebuah keputusan represif. Ketika ketegangan tidak mampu lagi diselesaikan lewat akal sehat, etika, dan kebersahajaan. Semua perangkat komunikasi seketika mati. Yang muncul suara keberingasan. Merobek bahasa santun sehari-hari mereka.
Pasukan polisi kian terseret emosinya. Menjadi gelap mata, liar dan brutal. Siapa pun mahasiswa yang mereka temukan di kampus itu, entah ikut aksi atau tidak, langsung digebuki. Suara histeris dan teriakan minta tolong bersahutan bersama suara hantaman benda keras. Sesekali dibarengi suara tembakan.
Dengan ekspresi penuh kebencian, para personel keamanan terus menjelajahi kampus sampai ke ruang rektor dan dosen. Mereka tak lagi menggubris otoritas kampus. Mengamuk dan merusak berbagai sarana yang ada. Para dosen dan rektor hanya terpaku penuh ketakutan. Mereka tak mampu berbuat apa-apa menyaksikan kebrutalan aparat keamanan itu.
Sementara di seberang jalan, terlihat beberapa orang pejabat kepolisian antara lain Kapoltabes Bandar Lampung, juga beberapa pejabat dari Korem dan Polda. Mereka mengawasi dari jauh perilaku anggotanya. Mereka seakan tidak tahu apa yang terjadi di dalam kampus itu.
Beberapa kali terdengar dialog melalui telpon genggam antara Rektor UBL dengan Kapoltabes berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi itu. “Ingat, Pak! Kami masuk ke kampus Anda bukan mencari mahasiswa Anda! tetapi mencari provokator aksi unjuk rasa ini! anak-anak PRD! Mereka berlindung di kampus Anda!” tegas Kapoltabes berkulit agak hitam itu.
“Ampun..ampun Pak! Jangan pukul kami! Jangan tembak kami!” teriak mahasiswa yang jatuh didorong petugas berbaju preman ke dalam parit besar di depan kampus.
“Iya..Pak! kami tidak ikut aksi, Pak!” jawab beberapa mahasiswa yang lebih dulu berlindung di dalam parit itu. Meski tidak digebuki, tapi tak urung tendangan kaki petugas yang dikenal anggota intel itu, menghantam kepala mahasiswa.
Seorang mahasiswi fotografer majalah kampus, Fitri, mengalami kritis di Rumah Sakit Advent, Kedaton. Bagian belakang kepalanya pecah dihantam popor senjata. Padahal sebelumnya, Fitri sempat berteriak: saya pers pak! sembari menunjukkan identitasnya. Namun orang-orang itu sudah gelap mata. Mahasiswi malang ini akhirnya meninggal dunia.
Siang itu, 28 September 1999, pemandangan di kampus UBL betul-betul menakutkan. Lingkungan pendidikan itu berubah menjadi lapangan pembantaian.
Peristiwa kekerasan bersenjata oleh polisi dan tentara itu, terjadi masa Presiden Abdurrahman Wahid, hanya berselang satu tahun sejak tumbangnya rezim militer Soeharto oleh gerakan reformasi mahasiswa Indonesia.
Lina hanya menonton saja repertoar tragedi itu, melalui “peformance art” yang digelar ratusan mahasiswa untuk memperingati “Peristiwa UBL Berdarah”, di depan Markas Korem 043 Garuda Hitam dan Poltabes Bandar Lampung. Lina merasakan ada yang lain bergolak dalam tubuhnya. Dengan jaket almamater yang baru didapat dari kampus, Lina mencoba mengekspresikan jati dirinya sebagai seorang mahasiswa. Sepotong poster yang digenggam erat kedua tangannya, terasa menambah bobot tubuhnya. Lina merasa mengusung batu besar, butuh energi besar untuk menghimpun tenaga dan keberanian.
Sambil berteriak dan menyanyi Lina bersama ratusan mahasiswa menyusuri jalan menuju bundaran Tugu Gajah atau Tugu Adipura. Sesekali ia menutupkan telapak tangan kirinya untuk melindungi wajahnya dari sengatan matahari siang itu.
Sebelum meninggalkan Korem, Lina sempat melihat orang-orang berpakaian loreng dengan senjata laras panjang di tangan. Mereka berdiri tegap di pintu masuk markas tentara yang telah dihadang portal plang besi dan pagar kawat. Di depannya pengunjuk rasa terus mendesak masuk ke halaman militer itu.
Lina berdiri di barisan depan. Ia sempat membuang muka ketika salah seorang berkumis lebat dalam barisan blokade berseragam loreng itu, menatap tajam ke arahnya. Untuk membunuh takutnya, cepat-cepat ia dongakkan wajah ke awan. Namun gumpalan awan terlihat lebih menakutkan. Warnanya bergradasi kekerasan. Lina menunduk mengalihkan tatapan ke perutnya yang tipis. Namun ujung-ujung kumis lebat itu terasa menempel dan menusuk-nusuk.
Lina sulit menjelaskan apakah itu sebuah kemenangan atau kekalahan. Sama ketika Leman, senior kampusnya, mengapresiasikan kaum fundamentalis beralih kepada komunis. Lina melihat fenomena kumis lebat yang menempel ke perutnya itu, adalah fenomena natural para pemuda atau mahasiswa sebuah negara untuk menjadi komunis, ketika beratus tahun hidup di bawah aturan imperialisme barat.
Senior yang juga asisten dosen kampus Lina itu, menjelaskan pula kegelisahan kaum kapitalis terhadap demokrasi yang dilahirkannya sendiri. Lebih buruk lagi ketika demokrasi itu sudah tidak lagi populer pada abad-abad berikutnya. “Isu globalisme, futurologi “Pasar Kesembilannya” Attali, pelan-pelan akan mempereteli ideologi politik dan ekonomi abad sebelumnya. Menjadi abad tertinggal,” tegas Leman bersemangat.
Lina tak sanggup mencerna maksudnya Leman bahwa demokrasi yang memang lahir dari perut kaum kapitalis, atau pun komunis dari kekuasaan totaliter, hanya menyisakan remah-remah ideologi purba. Ia seperti kereta trans nasional yang terseok-seok membawa manusia penuh kebanggaan atas perjuangan dan kebesaran masa lalu, katanya.
“Sangat menakutkan,” tukas Leman.
Ketika Agama menghendaki kekuasaan sejati berdasarkan simbol-simbol Tuhan, lanjut Leman. “Marx dan Lenin menawarkan apa yang tidak ditawarkan ideologi lainnya yakni, kehendak untuk berkuasa. Lebih buruk lagi seperti gerakan Apartheid di Afrika Selatan, di mana Kristen dan ajaran Kristus, menjadi alat pembenaran untuk kehendak berkuasa!” jelas Leman.
Cukup berat bagi Lina untuk memahami setiap kalimat dari para seniornya. Namun, ia berusaha keras menemukan satu garis linear dari gerakan progresif kawan-kawan mahasiswa. Seperti seorang nasionalis. Ia membaca kembali Indonesia dan sejarahnya. Membaca kembali asal-usul kebangsaan. Membaca kembali kitab leluhur. Ia merasakan dirinya menjadi manusia yang berlebihan.
Seperti aktivis lainnya, Lina selalu menemui kesulitan berbicara ke lorong masa lalu. Kadangkala kampus berubah menjadi wilayah kesepian dan keterasingan. Ia seperti kanak-kanak yang selalu menolehkan mukanya ke luar jendela, saat guru memberikan pelajaran di kelas. Ada keasikan lain dalam alam fantasi Lina ketika melihat keluasan pemandangan di luar kelas. Keasikan yang jauh lebih luas ketika memandang sepetak papan tulis di muka kelas.
Lina selalu dan akan selalu menatap keluar sana, sampai pengajaran guru selesai. Dan ia merasakan ada kebebasan di luar sana.

Tidak ada komentar: